02 May 2017

Permainan Anak 0-3 Bulan - Pola Berwarna Kontras

Permainan Anak 0-3 Bulan - Hello Bunda, kali ini Varishaa akan berbagi tips mengenai permainan bayi 0-3 bulan yang diberi judul Pola Berwarna Kontras. Penglihatan bayi yang belum sempurna membutuhkan stimulasi agar penglihatannya semakin baik. Bunda dapat mengenalkan si buah hati dengan permainan berupa gambar yang memiliki warna-warna yang kontras. Akan lebih baik lagi jika warna-warna ini merupakan warna yang cerah. Bunda dapat menggantungkan mainan berwarna cerah ini ataupun menempelkan pola dengan warna kontras di dinding atau dekat tempat tidur buah hati.
Pola Berwarna Kontras

Alat dan Bahan

Printable pola berwarna kontras (bisa pula membuat sendiri)

Cara Bermain

Bunda dapat menempelkan pola berwarna kontras (merah-hitam-putih) di dekat tempat tidur bayi. Bentuk pola beragam misalnya pola zigzag, lingkaran, kotak-kotak, maupun kupu-kupu. Biarkan si buah hati menatap pola tersebut di waktu-waktu bermainnya.


Manfaat Aktivitas ini

1. Menstimulasi penglihatan bayi
2. Mengenalkan bayi pada warna dan pola
3. Menstimulasi perkembangan kognitif bayi


Permainan Anak 0-3 Bulan

30 April 2017

Perkembangan Anak Usia Dini

Perkembangan Anak Usia Dini - Bunda tentu mengetahui bahwa masa usia dini merupakan Masa Keemasan (The Golden Ages) bagi sang buah hati. Pada masa ini, buah hati mulai peka untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka merupakan masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan sekitar. Masa peka pada masing-masing anak berbeda-beda seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Untuk itu, masa keemasan ini merupakan masa yang sangat tepat untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan si buah hati. Perkembangan anak usia dini dibagai ke dalam 4 aspek, yaitu aspek perkembangan fisik, aspek perkembangan kognitif, aspek perkembangan bahasa, dan aspek perkembangan sosial-ekonomi dan kemandirian.

Perkembangan Anak Usia Dini

1. Aspek Perkembangan Fisik pada Anak Usia Dini

Pada aspek perkembangan fisik, terjadi perkembangan motorik. Perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya, perkembangan ini berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak sehingga setiap gerakan sesederhana apapun merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak si buah hati.

Perkembangan kemampuan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmani yang terkoordinasi antar pusat syaraf, urat syaraf, dan otot. Perkembangan motorik terbagi ke dalam 2 bagian, yaitu motorik kasar dan motorik halus.

Perkembangan Motorik Kasar

Kemampuan motorik kasar adalah bagian dari aktivitas motorik yang mencakup keterampilan otot-otot besar. Gerakan ini lebih menuntut kekuatan fisik dan keseimbangan pada anak. Gerakan motorik kasar melibatkan aktivitas otot tangan, kaki, dan seluruh tubuh anak. Perkembangan motorik kasar beriringan dengan proses pertumbuhan secara genetis atau kematangan fisik anak. Contoh perkembangan motorik kasar pada anak adalah duduk, menendang, merangkak, berjalan, berlari, melompat, dan lain sebagainya.

Perkembangan motorik kasar apda anak memiliki rangkaian tahapan yang berurutan. Artinya, setiap tahapan harus dilalui dan dikuasai dahulu sebelum memasuki tahapan selanjutnya. Tidak semua anak akan menguasai suatu keterampilan di usia yang sama, hal tersebut dapat terjadi karena perkembangan anak bersifat individual. Namun, perbedaan ini tidak menyebabkan anak yang satu dengan anak yang lainnya lebih pandai atau lebih hebat karena perkembangan keterampilan tidak berpengaruh langsung terhadap kecerdasan seorang anak.

Perkembangan Kemampuan Motorik Halus

Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil serta koordinasi mata dan tangan si buah hati. Saraf motorik halus dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang berkesinambungan secara rutin, seperti bermain puzzle, menyusun balok, memasukkan bola ke dalam keranjang, membuat garis, melipat kertas, dan sebagainya.

Serupa dengan kemampuan motorik kasar, perkembangan motorik halus pada masing-masing anak berbeda dalam hal kekuatan maupun ketepatannya. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh pembawaan anak dan stimulasi yang didapatkannya. Lingkungan sekitar (orang tua) mempunyai peranan yang sangat besar terhadap kemampuan motorik halus anak. Lingkungan dapat meningkatkan sekaligus menurunkan taraf kecerdasan anak, terutama pada masa-masa pertama kehidupannya.

Setiap anak mampu mencapai tahap perkembangan motorik halus yang optimal asal mendapatkan stimulasi yang tepat. Pada setiap fase, anak membutuhkan rangsangan untuk mengembangkan kemampuan mental dan motorik halusnya. Semakin banyak yang dilihat dan didengar maka semakin banyak yang ingin diketahuinya.

2. Aspek Perkembangan Kognitif pada Anak Usia Dini

Perkembangan kognitif merupakan ranah yang mencakup kegiatan mental (otak) anak. Perkembangan kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir, termasuk kemampuan menghapal, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, serta kemampuan mengevaluasi.

Pada usia 0-3 tahun, anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Pada tahap perkembangan ini, anak akan mengembangkan rasa keingintahuannya melalui beberapa hal, yaitu meniru orang tua, belajar melalui pengamatan, belajar konsentrasi, mengenal anggota badan, memahami bentuk, kedalaman, serta ruang dan waktu. Anak juga mulai mampu berimajinasi dan berpikir antisipatif.

Menurut Jean Piaget, tahap perkembangan kognitif pada anak adalah:
  1. Tahap Perkembangan Sensorimotor (0-2 tahun)
    Pada masa ini, kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahasa awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat saja.
  2. Tahap Pra-operasional (2-7 tahun)
    Pada masa ini, kemampuan menerima rangsangan yang terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak dan masih terbatas.
  3. Tahap Konkret Operarisonal (7-11 tahun)
    Pada tahap ini, anak sudah mampu menyelesaikan tugas seperti menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderekan, melipat, membagi, dan lain sebagainya.
  4. Tahap Formal Operasional (11-15 tahun)
    Pada tahap ini, anak sudah mampu berpikir tingkat tinggi dan berpikir secara abstrak.

3. Aspek Perkembangan Bahasa

Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

Bunda, pada 3 tahun pertamanya hidup di dunia ini, otak si buah hati sedang berkembang dengan sangat pesat. Hal ini merupakan periode intensif dalam perkembangan kemampuan bicara dan bahasa. Keterampilan bahasa ini akan berkembanga melalui suara yang didengar, hal yang dilihat, serta paparan yang konsisten didapatkannya dari pembicaraan dan bahasa orang yang ada di sekitar buah hati.

Pada saat buah hati berusia 2 tahun, ia akan mengalami peningkatan jumlah kosakata yang sangat pesat atau sering dikenal dengan sebutan "ledakan bahasa". Kata-kata yang baru serta kata-kata yang telah dipelajari diproses untuk memahami konsep-konsep di lingkungan sekitarnya. Buah hati mulai banyak mengeksplorasi dunia sekitar mereka dengan bahasa. Tak jarang pertanyaan "Apa ini?" muncul dari si buah hati.

Perkembangan bahasa ini terdiri dari 2 aspek kemampuan, yaitu kemampuan ekspresif dan kemampuan reseptif. Kemampuan ekspresif adalah kemampuan untuk menghasilkan suara atau kata secara lisan, isyarat atau gestur, atau bentuk tertulis untuk menyampaikan pesan. Sedangkan kemampuan reseptif adalah kemampuan untuk memproses dan memahami pesan dari bahasa, baik tertulis, lisan, mapun isyarat atau gestur.


4. Aspek Perkembangan Sosial-Emosional dan Kemandirian

Menurut seorang ahli psikoanalisis, Erik Ericson, perkembangan sosial anak dibagi ke dalam 4 tahap, yaitu:

1. Basic Trust vs Mistrust (percaya atau curiga) - Usia 0-2 Tahun

Pada tahap ini, jika anak mendapat pengalaman yang menyenangkan, maka akan tumbuh rasa percaya diri. Sebaliknya, pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga pada diri anak.

2. Autonomy vs Shame and Doubt (mandiri vs ragu) - Usia 2-3 Tahun

Pada tahap ini, anak sudah mampu merasa menguasai anggota tubuhnya dan dapat menumbuhkan rasa otonomi. Anak merasa dapat melakukan aktivitas sendiri sehingga akan mudah tersinggung jika diberi bantuan. Pada tahap ini, alangkah baiknya jika orang tua memberi ruang kepercayaan dan kesempatan kepada anak.

3. Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah) - Usia 4-5 Tahun

Pada masa ini, anak mulai dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua serta dapat bergerak bebas dan berintraksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, namun juga sebaliknya dapat menimbulkan rasa berasalah.

4. Industry vs Inferiority (percaya diri vs rendah diri) - Usia 6 Tahun - Pubertas

Pada tahap ini, anak dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa, sehingga ia perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil dalam diri anak. Sebaliknya, jika anak tidak memiliki suatu keterampilan khusus, dapat timbul rasa rendah diri.

Demikian tulisan Perkembangan Anak Usia Dini. Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi kita semua. Salam hangat Keluarga Sehat Indonesia.

Perkembangan Anak Usia Dini

24 September 2016

Potong Kuku Bayi Baru Lahir

Potong Kuku Bayi Baru Lahir - Kegiatan potong memotong kuku merupakan kegiatan rutin yang biasa dilakukan oleh orang dewasa minimal 1 kali dalam sebulan. Namun, jika memotong kuku bayi baru lahir tentu sedikit berbeda. Tidak bisa disamakan seperti memotong kuku pada orang dewasa. Perbedaan yang mencolok tentu karena ukuran jemari yang lebih kecil membuat kita harus ekstra hati-hati ketika memotong kuku bayi. Untuk itu, simak ulasan Varishaa.com bagaimana cara potong kuku bayi yang baik dan benar agar tidak terluka. Tips ini berdasarkan pengalaman pribadi ketika kami pertama kali memotong kuku baby Varisha yang baru lahir.

Potong Kuku Bayi Baru Lahir
Cara Potong Kuku Bayi

Potong Kuku Bayi Baru Lahir

Cara potong kuku bayi yang memiliki jari jemari kecil bahkan kuku jari yang sangat kecil membutuhkan kehati-hatian dan kesabaran yang ekstra. Jika dalam kondisi tidak mood, kami sarankan untuk tidak meneruskan proses pemotongan kuku bayi. Berikut tips potong kuku bayi baru lahir:

1. Siapkan Peralatan yang Memadai

Alat untuk memotong kuku bayi sedikit berbeda dengan alat potong kuku orang dewasa. Perbedaannya terletak pada ukuran dan bentuk. Ukuran alat potong kuku bayi lebih kecil dan bentuknya tidak selalu berbentuk V seperti alat potong kuku pada umumnya. Bentuknya ada yang seperti Gunting yang ujungnya tumpul atau membulat agar tidak melukai bayi. Ukuran dan bentuknya bisa Bunda lihat seperti gambar di bawah ini.
gunting kuku bayi
Gunting Kuku Bayi
Gunting kuku bayi juga biasanya ada yang mampu mengukur panjang kuku sehingga ketika dipotong tidak terlalu panjang atau terlalu pendek. Bunda bisa membeli gunting kuku bayi ini di toko-toko perlengkapan bayi dengan harga yang bervariasi. Sesuaikan dengan kebutuhan dan budget ya Bunda.

2. Pilihan Waktu yang Tepat

Ketika memotong kuku bayi baru lahir, usahakan memilih waktu yang tepat agar bayi dapat dengan mudah dipotong kukunya. Bayi baru lahir biasanya memiliki kuku yang panjang, bagi bayi yang aktif bergerak berpotensi melukai wajah karena goresan dari kuku yang tajam. Waktu yang tepat untuk memotong kuku bayi adalah ketika Bayi Sedang Tertidur, Bayi Sedang Menyusui, dan Bayi Baru Selesai Mandi. Paling nyaman adalah ketika bayi baru selesai mandi, kemudian diajak menyusui oleh Bunda hingga tertidur. Ini adalah waktu yang paling tepat. Setelah mandi, kondisi kuku lebih melunak sehingga mudah dipotong. Pada saat tertidur, bayi dapat dengan mudah dipegang dan kita dapat lebih konsentrasi memotong kuku bayi tanpa was-was melukai jemarinya.
potong kuku bayi ketika tertidur
Potong Kuku Bayi Ketika Tertidur

3. Pencahayaan Ruang yang Memadai

Setelah memilih waktu yang tepat untuk memotong kuku bayi baru lahir, faktor selanjutnya yang harus dipertimbangkan adalah Pencahayaan Ruang yang memadai. Jangan memotong kuku bayi pada ruangan yang memiliki pencahayaan kurang karena berisiko melukai jari bayi. Usahakan pada cahaya yang terang sehingga Bunda bisa memotong dengan penuh konsentrasi tanpa berisiko melukai jemari buah hari tercinta.

4. Potong Kuku Mengikuti Lekuk Jari

Bentuk kuku bayi berbeda-beda layaknya kuku orang dewasa, untuk memotongnya usahakan mengukuti bentuk lekukan kuku jari. Namun, jika hal tersebut sulit untuk dilakukan, Bunda dapat memotong kuku lurus rata atau tidak mengikuti bentuk lekukan kuku jari. Hal yang paling utama adalah tidak memotong kuku terlalu pendek atau terlalu panjang. Sisakan beberapa mili agar bayi tetap merasa nyaman.

5. Siapkan Tisu dan Antiseptik

In case, Bunda bisa menyiapkan tisu dan antiseptik jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Letakkan tisu dan antiseptik tidak jauh dari jangkauan sehingga dapat dengan cepat mengantisipasi jika terjadi luka.

6. Potong Kuku Bayi secara Teratur 

Perkembangan bayi yang cepat membuat kita harus sering-sering memperhatikan panjang kuku bayi. Pada bayi baru lahir yang sering berjemur dan terkena sinar matahari pagi secara langsung tentu memiliki perkembangan kuku yang sangat cepat. Pengalaman kami pada baby Varisha harus memotong kukunya minimal seminggu sekali karena kuku baby Varisha cepat panjang. Bunda dapat bergantian memotong kuku dengan sang Ayah agar kedekatan keluarga semakin harmonis.

Itulah ulasan mengenai Potong Kuku Bayi Baru Lahir, semoga bermanfaat dan terus semangat membangun generasi muda yang tangguh. Salam sehat keluarga Indonesia.

Potong Kuku Bayi Baru Lahir

Umur Berapa Bulan Bayi Bisa Tengkurap?

Umur Berapa Bulan Bayi Bisa Tengkurap - Melihat perkembangan buah hati dari hari kehari merupakan kenikmatan yang tak terhingga. Terlebih bayi yang kita sayangi semakin hari semakin lincah dan menggemaskan. Bagi Mahmud (baca: Mamah Muda) yang baru memiliki buah hati tentunya bertanya-tanya kapan bayi bisa tengkurap? Untuk itu, mari kita bahas serba serbi mengenai bayi tengkurap umur berapa bulan.

Umur Berapa Bulan Bayi Bisa Tengkurap
Bayi Tengkurap (anisasaptari.wordpress.com)

Umur Berapa Bulan Bayi Bisa Tengkurap?

Usia bayi dapat tengkurap normalnya adalah 3-6 bulan. Namun, masing-masing bayi memiliki gerak motorik yang berbeda-beda satu sama lainnya. Berdasarkan pengalaman, banyak juga bayi yang sudah dapat tengkurap di usia 1-2 bulan. Itu semua tergantung dengan motorik bayi. Bayi yang aktif menggerakkan kedua tangan dan kaki biasanya lebih cepat tengkurap. Ditambah bayi yang menggunakan ASI sebagai asupan utama memiliki rangsangan lebih untuk tengkurap karena posisi menyusui yang agak miring ke sebuah sisi tertentu.

Bagi Bunda yang cemas kenapa bayi kesayangan di usia 4 bulan, 5 bulan atau 6 bulan belum bisa tengkurap sedangkan anak tetangga sudah bisa tengkurap di usia 2 bulan, jangan terlalu khawatir dan berkecil hati. Bunda harus tetap tenang karena itu hal yang Normal.

Namun, bagaimana bagi bayi yang > 6 bulan belum juga bisa tengkurap? Bunda bisa mencoba memberi rangsangan kepada bayi kesayangan dengan cara sebagai berikut:
  1. Tengkurapkan bayi di atas perut Bunda.
    Dengan posisi perut bertemu perut membuat bayi nyaman dan merasa terlindungi karena kedekatan antara bayi dan Bunda. Detak jantung yang dirasakan bayi juga mempengaruhi keintiman Bunda dan bayi kesayangan. Buat dia merasa senyaman mungkin.
  2. Tengkurapkan bayi di atas kedua paha Bunda.
    Posisi ini merangsang otot leher agar lebih kuat sehingga dapat melatih bayi untuk mengangkat kepala dimana kekuatan otot leher sangat penting ketika bayi mulai belajar untuk tengkurap. Ketika bayi sudah dapat mengangkat kepalanya, kita tidak perlu terlalu khawatir ketika dia mulai tengkurap karena mulut dan hidungnya tidak akan menempel sehingga dapat bernapas dengan lega. Namun bunda harus tetap mengawasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
  3. Pilihlah waktu yang Tepat. Bunda dapat memilih waktu yang tepat kapan mengajak si buah hati untuk belajar tengkurap. Disarankan ketika bayi sedang aktif bergerak pada siang hari. Sangat tidak disarankan untuk melatih bayi tengkurap sebelum atau sesudah makan. Karena lapar, biasanya bayi akan menjadi rewel dan tidak bisa diajak untuk berlatih tengkurap. Jika setelah makan atau menyusui, bayi biasanya akan muntah ketika diajak untuk tengkurap.
  4. Durasi berlatih tengkurap.
    Untuk bayi berumur 2 atau 3 bulan dan memang memiliki motorik yang aktif, Bunda dapat mengajarkan tengkurap 2-3 menit dalam sehari. Jika bayi sudah mampu mengangkat kepala dengan kuat dan sudah terbiasa tengkurap, durasi tengkurap bisa ditambah menjadi 5-7 menit sehari.
usia bayi bisa tengkurap
Posisi Melatih Bayi Bayi Tengkurap (wikihow.com)

Itulah ulasan yang dapat diberikan mengenai kapan waktu bayi bisa tengkurap dan tips melatih bayi tengkurap. Bagi bunda yang memiliki pengalaman pada umur berapa bulan bayi bisa tengkurap dapat berkomentar di kolom komentar di bawah ini. Untuk Bunda yang sampai saat ini bayinya belum bisa tengkurap jangan menyerah, terus latih bayi kesayangan dan berikan support dengan sepenuh hati.

Demikian tulisan mengenai Umur Berapa Bulan Bayi Bisa Tengkurap? Semoga bermanfaat dan dapat menjawab pertanyaan yang ingin Bunda ketahui. Salam hangat Keluarga Sehat Indonesia.

Umur Berapa Bulan Bayi Bisa Tengkurap