30 April 2017

Perkembangan Anak Usia Dini

Perkembangan Anak Usia Dini - Bunda tentu mengetahui bahwa masa usia dini merupakan Masa Keemasan (The Golden Ages) bagi sang buah hati. Pada masa ini, buah hati mulai peka untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka merupakan masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan sekitar. Masa peka pada masing-masing anak berbeda-beda seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Untuk itu, masa keemasan ini merupakan masa yang sangat tepat untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan si buah hati. Perkembangan anak usia dini dibagai ke dalam 4 aspek, yaitu aspek perkembangan fisik, aspek perkembangan kognitif, aspek perkembangan bahasa, dan aspek perkembangan sosial-ekonomi dan kemandirian.

Perkembangan Anak Usia Dini

1. Aspek Perkembangan Fisik pada Anak Usia Dini

Pada aspek perkembangan fisik, terjadi perkembangan motorik. Perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya, perkembangan ini berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak sehingga setiap gerakan sesederhana apapun merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak si buah hati.

Perkembangan kemampuan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmani yang terkoordinasi antar pusat syaraf, urat syaraf, dan otot. Perkembangan motorik terbagi ke dalam 2 bagian, yaitu motorik kasar dan motorik halus.

Perkembangan Motorik Kasar

Kemampuan motorik kasar adalah bagian dari aktivitas motorik yang mencakup keterampilan otot-otot besar. Gerakan ini lebih menuntut kekuatan fisik dan keseimbangan pada anak. Gerakan motorik kasar melibatkan aktivitas otot tangan, kaki, dan seluruh tubuh anak. Perkembangan motorik kasar beriringan dengan proses pertumbuhan secara genetis atau kematangan fisik anak. Contoh perkembangan motorik kasar pada anak adalah duduk, menendang, merangkak, berjalan, berlari, melompat, dan lain sebagainya.

Perkembangan motorik kasar apda anak memiliki rangkaian tahapan yang berurutan. Artinya, setiap tahapan harus dilalui dan dikuasai dahulu sebelum memasuki tahapan selanjutnya. Tidak semua anak akan menguasai suatu keterampilan di usia yang sama, hal tersebut dapat terjadi karena perkembangan anak bersifat individual. Namun, perbedaan ini tidak menyebabkan anak yang satu dengan anak yang lainnya lebih pandai atau lebih hebat karena perkembangan keterampilan tidak berpengaruh langsung terhadap kecerdasan seorang anak.

Perkembangan Kemampuan Motorik Halus

Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil serta koordinasi mata dan tangan si buah hati. Saraf motorik halus dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang berkesinambungan secara rutin, seperti bermain puzzle, menyusun balok, memasukkan bola ke dalam keranjang, membuat garis, melipat kertas, dan sebagainya.

Serupa dengan kemampuan motorik kasar, perkembangan motorik halus pada masing-masing anak berbeda dalam hal kekuatan maupun ketepatannya. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh pembawaan anak dan stimulasi yang didapatkannya. Lingkungan sekitar (orang tua) mempunyai peranan yang sangat besar terhadap kemampuan motorik halus anak. Lingkungan dapat meningkatkan sekaligus menurunkan taraf kecerdasan anak, terutama pada masa-masa pertama kehidupannya.

Setiap anak mampu mencapai tahap perkembangan motorik halus yang optimal asal mendapatkan stimulasi yang tepat. Pada setiap fase, anak membutuhkan rangsangan untuk mengembangkan kemampuan mental dan motorik halusnya. Semakin banyak yang dilihat dan didengar maka semakin banyak yang ingin diketahuinya.

2. Aspek Perkembangan Kognitif pada Anak Usia Dini

Perkembangan kognitif merupakan ranah yang mencakup kegiatan mental (otak) anak. Perkembangan kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir, termasuk kemampuan menghapal, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, serta kemampuan mengevaluasi.

Pada usia 0-3 tahun, anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Pada tahap perkembangan ini, anak akan mengembangkan rasa keingintahuannya melalui beberapa hal, yaitu meniru orang tua, belajar melalui pengamatan, belajar konsentrasi, mengenal anggota badan, memahami bentuk, kedalaman, serta ruang dan waktu. Anak juga mulai mampu berimajinasi dan berpikir antisipatif.

Menurut Jean Piaget, tahap perkembangan kognitif pada anak adalah:
  1. Tahap Perkembangan Sensorimotor (0-2 tahun)
    Pada masa ini, kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahasa awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat saja.
  2. Tahap Pra-operasional (2-7 tahun)
    Pada masa ini, kemampuan menerima rangsangan yang terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak dan masih terbatas.
  3. Tahap Konkret Operarisonal (7-11 tahun)
    Pada tahap ini, anak sudah mampu menyelesaikan tugas seperti menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderekan, melipat, membagi, dan lain sebagainya.
  4. Tahap Formal Operasional (11-15 tahun)
    Pada tahap ini, anak sudah mampu berpikir tingkat tinggi dan berpikir secara abstrak.

3. Aspek Perkembangan Bahasa

Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

Bunda, pada 3 tahun pertamanya hidup di dunia ini, otak si buah hati sedang berkembang dengan sangat pesat. Hal ini merupakan periode intensif dalam perkembangan kemampuan bicara dan bahasa. Keterampilan bahasa ini akan berkembanga melalui suara yang didengar, hal yang dilihat, serta paparan yang konsisten didapatkannya dari pembicaraan dan bahasa orang yang ada di sekitar buah hati.

Pada saat buah hati berusia 2 tahun, ia akan mengalami peningkatan jumlah kosakata yang sangat pesat atau sering dikenal dengan sebutan "ledakan bahasa". Kata-kata yang baru serta kata-kata yang telah dipelajari diproses untuk memahami konsep-konsep di lingkungan sekitarnya. Buah hati mulai banyak mengeksplorasi dunia sekitar mereka dengan bahasa. Tak jarang pertanyaan "Apa ini?" muncul dari si buah hati.

Perkembangan bahasa ini terdiri dari 2 aspek kemampuan, yaitu kemampuan ekspresif dan kemampuan reseptif. Kemampuan ekspresif adalah kemampuan untuk menghasilkan suara atau kata secara lisan, isyarat atau gestur, atau bentuk tertulis untuk menyampaikan pesan. Sedangkan kemampuan reseptif adalah kemampuan untuk memproses dan memahami pesan dari bahasa, baik tertulis, lisan, mapun isyarat atau gestur.


4. Aspek Perkembangan Sosial-Emosional dan Kemandirian

Menurut seorang ahli psikoanalisis, Erik Ericson, perkembangan sosial anak dibagi ke dalam 4 tahap, yaitu:

1. Basic Trust vs Mistrust (percaya atau curiga) - Usia 0-2 Tahun

Pada tahap ini, jika anak mendapat pengalaman yang menyenangkan, maka akan tumbuh rasa percaya diri. Sebaliknya, pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga pada diri anak.

2. Autonomy vs Shame and Doubt (mandiri vs ragu) - Usia 2-3 Tahun

Pada tahap ini, anak sudah mampu merasa menguasai anggota tubuhnya dan dapat menumbuhkan rasa otonomi. Anak merasa dapat melakukan aktivitas sendiri sehingga akan mudah tersinggung jika diberi bantuan. Pada tahap ini, alangkah baiknya jika orang tua memberi ruang kepercayaan dan kesempatan kepada anak.

3. Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah) - Usia 4-5 Tahun

Pada masa ini, anak mulai dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua serta dapat bergerak bebas dan berintraksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, namun juga sebaliknya dapat menimbulkan rasa berasalah.

4. Industry vs Inferiority (percaya diri vs rendah diri) - Usia 6 Tahun - Pubertas

Pada tahap ini, anak dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa, sehingga ia perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil dalam diri anak. Sebaliknya, jika anak tidak memiliki suatu keterampilan khusus, dapat timbul rasa rendah diri.

Demikian tulisan Perkembangan Anak Usia Dini. Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi kita semua. Salam hangat Keluarga Sehat Indonesia.

Perkembangan Anak Usia Dini

Related Posts

Perkembangan Anak Usia Dini
4/ 5
Oleh